Ramadhan mendatangiku seperti seseorang yang muncul dari masa kecil. Membawa cerita tentang petasan dan meriam bumbung. Juga sepotong kisah ketika malam-malam serombongan kanak berkeliling kampung, memukuli bambu, membanguni petani yang lelap dalam mimpi tentang panen semu dan musim yang melambai pergi.
Ramadhan mengunjungiku. Ia datang, seperti seorang utusan dari negeri kubur. Berkisah tentang jiwa-jiwa yang meluruh, menggumuli malam dengan zikir-zikir panjang, dengan tasbih yang tiap butirnya adalah airmata yang membatu. Membawakanku cermin, yang padanya tergambar segala coreng legam jejak langkahku.
Ramadhan menyapaku, memegang pundakku. Ia sungguh membuat tersipu saat berkata bahwa menahan lapar adalah hal paling ringan dari seribu ujian yang seharusnya ditanggung. Sudahkah dapat ditahan mata yang mengerjap ketika sesosok tubuh sedang menghidangkan hasrat purbawi? Sudahkah lidah ditahan untuk tak mengumpat barang sehari? Sudahkan telinga dapat dikekang untuk tak larut dalam gunjingan tanpa arti?
Ramadhan adalah sahabat siang, adalah sahabat malam. Ia mentertawakanku yang menyambut azan magrib dengan kegairahan orang kelaparan. Kepadaku ia nyanyikan kidung tentang rintihan orang-orang yang seluruh isi hidupnya adalah lapar. Ramadhan mentertawakanku yang bersantap sahur seperti reptil yang akan seminggu tak makan. Bahwa masihkah bernama ujian ketika tak berusaha menjalani dengan apa adanya?
Sesingkat musim yang pendek, aku tahu Ramadhan akan meninggalkanku pula. Di ujung ladang, ketika orang-orang bersuka cita, menabuh genderang hari kemenangan. Ia yang suci tetap menyisakan misteri, mengapa tetap pergi dengan mata berlinang? Sebab selekas perginya, orang-orang akan lekas juga lena. Bukankah sudah tak lagi Ramadhan, bukankah pada masanya ia akan tetap mengunjungi kita lagi?
Ramadhan yang tabah, Ramadhan yang setia. Tapi, akankah ia masih setia datang kepada seorang beruban, berlengan keriput yang menggigil dalam himpit noda lumpur dunia? Ia yang tak menemui, ataukah kita yang tak lagi menemui, apalah bedanya. Akan ada masa, ketika kita dan Ramadhan tak lagi dapat saling bersua!
Al Qur’an mengisahkan kehidupan Nabi Musa AS dengan sangat jelas. Tatkala memaparkan perselisihan dengan Fir’aun dan urusannya dengan Bani Israil, Al Qur’an menyingkap berlimpah keterangan tentang Mesir kuno. Pentingnya banyak babak bersejarah ini hanya baru-baru ini menjadi perhatian para pakar dunia. Ketika seseorang memperhatikan babak-babak bersejarah ini dengan pertimbangan, seketika akan menjadi jelas bahwa Al Qur’an, dan sumber pengetahuan yang dikandungnya, telah diwahyukan oleh Allah Yang Mahatahu dikarenakan Al Qur’an bersesuaian langsung dengan seluruh penemuan besar di bidang ilmu pengetahuan, sejarah dan kepurbakalaan di masa kini.
Satu contoh pengetahuan ini dapat ditemukan dalam paparan Al Qur’an tentang Haman: seorang pelaku yang namanya disebut di dalam Al Qur’an, bersama dengan Fir’aun. Ia disebut di enam tempat berbeda dalam Al Qur’an, di mana Al Qur’an memberitahu kita bahwa ia adalah salah satu dari sekutu terdekat Fir’aun.
Anehnya, nama “Haman” tidak pernah disebutkan dalam bagian-bagian Taurat yang berkaitan dengan kehidupan Nabi Musa AS. Tetapi, penyebutan Haman dapat ditemukan di bab-bab terakhir Perjanjian Lama sebagai pembantu raja Babilonia yang melakukan banyak kekejaman terhadap Bani Israil kira-kira 1.100 tahun setelah Nabi Musa AS. Al Qur’an, yang jauh lebih bersesuaian dengan penemuan-penemuan kepurbakalaan masa kini, benar-benar memuat kata “Haman” yang merujuk pada masa hidup Nabi Musa AS.
Tuduhan-tuduhan yang dilontarkan terhadap Kitab Suci Islam oleh sejumlah kalangan di luar Muslim terbantahkan tatkala naskah hiroglif dipecahkan, sekitar 200 tahun silam, dan nama “Haman” ditemukan di naskah-naskah kuno itu. Hingga abad ke-18, tulisan dan prasasti Mesir kuno tidak dapat dipahami. Bahasa Mesir kuno tersusun atas lambang-lambang dan bukan kata-kata, yakni berupa hiroglifik. Gambar-gambar ini, yang memaparkan kisah dan membukukan catatan peristiwa-peristiwa penting sebagaimana kegunaan kata di zaman modern, biasanya diukir pada batu dan banyak contoh masih terawetkan berabad-abad. Dengan tersebarnya agama Nasrani dan pengaruh budaya lainnya di abad ke-2 dan ke-3, Mesir meninggalkan kepercayaan kunonya beserta tulisan hiroglif yang berkaitan erat dengan tatanan kepercayaan yang kini telah mati itu. Contoh terakhir penggunaan tulisan hiroglif yang diketahui adalah sebuah prasasti dari tahun 394. Bahasa gambar dan lambang telah terlupakan, menyisakan tak seorang pun yang dapat membaca dan memahaminya. Sudah tentu hal ini menjadikan pengkajian sejarah dan kepurbakalaan nyaris mustahil. Keadaan ini tidak berubah hingga sekitar 2 abad silam.
Pada tahun 1799, kegembiraan besar terjadi di kalangan sejarawan dan pakar lainnya, rahasia hiroglif Mesir kuno terpecahkan melalui penemuan sebuah prasasti yang disebut “Batu Rosetta.” Penemuan mengejutkan ini berasal dari tahun 196 SM. Nilai penting prasasti ini adalah ditulisnya prasasti tersebut dalam tiga bentuk tulisan: hiroglif, demotik (bentuk sederhana tulisan tangan bersambung Mesir kuno) dan Yunani. Dengan bantuan naskah Yunani, tulisan Mesir kuno diterjemahkan. Penerjemahan prasasti ini diselesaikan oleh orang Prancis bernama Jean-Françoise Champollion. Dengan demikian, sebuah bahasa yang telah terlupakan dan aneka peristiwa yang dikisahkannya terungkap. Dengan cara ini, banyak pengetahuan tentang peradaban, agama dan kehidupan masyarakat Mesir kuno menjadi tersedia bagi umat manusia dan hal ini membuka jalan kepada pengetahuan yang lebih banyak tentang babak penting dalam sejarah umat manusia ini.
Melalui penerjemahan hiroglif, sebuah pengetahuan penting tersingkap: nama “Haman” benar-benar disebut dalam prasasti-prasasti Mesir. Nama ini tercantum pada sebuah tugu di Museum Hof di Wina. Tulisan yang sama ini juga menyebutkan hubungan dekat antara Haman dan Fir’aun.
Dalam kamus People in the New Kingdom , yang disusun berdasarkan keseluruhan kumpulan prasasti tersebut, Haman disebut sebagai “pemimpin para pekerja batu pahat”.
Temuan ini mengungkap kebenaran sangat penting: Berbeda dengan pernyataan keliru para penentang Al Qur’an, Haman adalah seseorang yang hidup di Mesir pada zaman Nabi Musa AS. Ia dekat dengan Fir’aun dan terlibat dalam pekerjaan membuat bangunan, persis sebagaimana dipaparkan dalam Al Qur’an.
Dan berkata Fir’aun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta”. (QS. Al Qashas, 28:38)
Ayat dalam Al Qur’an tersebut yang mengisahkan peristiwa di mana Fir’aun meminta Haman mendirikan menara bersesuaian sempurna dengan penemuan purbakala ini. Melalui penemuan luar biasa ini, sanggahan-sanggahan tak beralasan dari para penentang Al Qur’an terbukti keliru dan tidak bernilai intelektual.Secara menakjubkan, Al Qur’an menyampaikan kepada kita pengetahuan sejarah yang tak mungkin dimiliki atau diketahui di masa Nabi Muhammad SAW. Hiroglif tidak mampu dipecahkan hingga akhir tahun 1700-an sehingga pengetahuan tersebut tidak dapat dipastikan kebenarannya di masa itu dari sumber-sumber Mesir. Ketika nama “Haman” ditemukan dalam prasasti-prasasti kuno tersebut, ini menjadi bukti lagi bagi kebenaran mutlak Firman Allah.
Ketika aku merasa begitu banyak hal yang ingin aku lakukan, tapi aku merasa Allah tak pernah memberikan jalan untukku, Ketika aku merasa Allah tak Adil padaku, tapi ternyata Nikmat yang telah Allah berikan untukku tak bisa terhitung lagi...... Ketika aku merasa dunia milikku, selalu saja Allah mengijinkan orang lain mencurinya dariku..... Ketika sebuah harapan baru muncul, selalu saja Allah memberikan kebimbangan padaku.... Ketika datang seseorang kepadaku menawarkan kebahagiaan, aku selalu saja takut dan ragu.... Ketika semua serba ada, aku selalu menganggap tak pernah ada..... Ketika waktu berpihak padaku, aku selalu saja tak memanfaatkan dengan baik... Ketika aku merasa ingin berhenti sejenak, tapi keadaan tak mengijinkan aku berhenti,.. Dan ketika.......ketika....ketika.......ketika lagi............ Dan ketika semua itu hilang, maka aku...................... Hm....ternyata aku belum dewasa menyikapi semua hal tentang arti sebuah kehidupan... Kedewasaan dimulai sejak kita menghirup udara..ketika dunia sudah tak senyaman di dalam rahim Ibu...... Berikan aku penjelasan tentang arti kehidupan dan arti sebuah kedewasaa…
Perjalanan Panjang menelusuri ruang dan waktu...
terasa begitu panjang dan tak berujung..
terkadang penat menghampiri dan terkadang lelah menerpa....
tetapi tak jua menyurutkan waktu.........................
yupz..inilah sebuah perjuangan untuk meraih sebuah mimpi..
karena sesuatu yang Indah tak akan terasa Indah jika kita meraihnya dengan mudah tanpa Perjuangan...
dan hanya sebuah perjuangan yang menjadikan kta tetap hidup..
menjadikan kita tersenyum Bahagia di akhir kisah...